Rihlah Talang Mamak (4): Recharging Iman

Perjalanan dengan perahu motor selama 5 jam (sumber foto: UAS, Bismar, Feizal)

 

Setelah sekitar lima jam mengharungi Batang Gansal ke hulu menggunakan perahu motor, termasuk singgah di “rest area”, kami sampai di Dusun Air Bomban sebagai tujuan pertama.  Di dusun ini ada 23 unit rumah dengan penduduk yang umumnya hidup dari hasil hutan dan kebun karet atau berladang di sekitar sungai.

Perahu merapat di tepian rakit bambu yang sekaligus sebagai jamban.  Para peserta rihlah mengangkat barang bawaannya masing-masing mendaki tebing sungai menuju ke sebuah sebuah masjid sederhana dan tua.  Setelah sholat, waktu bebas bagi para peserta digunakan untuk berbagai kegiatan.  Para “panitia” langsung sibuk melakukan persiapan-persiapan yang perlu untuk malam dan keesokan harinya.  Para peserta ada yang longok sana sini, ada yang duduk-duduk dan bercengkrama dengan warga dusun, ada yang langsung mandi ke sungai, atau langsung menggeletak dalam masjid.

Masjid ini jadi “markas” sekali gus penginapan peserta rihlah, sebagaimana kesepakatan “advance team” dengan masyarakat, khususnya Pak Yahya sebagai imam masjid dan guru agama di dusun itu.  Karena masjid yang baru sedang dikerjakan maka peserta berbagi tempat dengan bahan bangunan di dalam masjid itu.  Namun keadaan yang ada nampaknya tidak mengurangi nikmat istirahat dan tidur yang diberikan Allah Swt.

Sementara itu, Ustadz Abdul Somad (UAS) termasuk yang paling dulu siap untuk menyambut maghrib tanpa kelihatan lelah.  Menyimak apa yang beliau lakukan dalam perjalanan, memang ada kiat yang beliau amalkan.  Pertama, nampaknya UAS makan sedikit sehingga gerakannya ringan (sementara kita, mungkin sedikit-sedikit makan).  Kedua, pembawaan beliau simpel dan mudah memahami berbagai keadaan yang dihadapi sehingga tidak menyulitkan diri menghadapi keadaan yang sulit.  Ketiga, beliau mengatur waktunya sangat efektif ketika di kendaraan, baik mobil maupun perahu motor.

Bagaikan punya kenop, ketika kendaraan sudah jalan maka beliau langsung memejamkan matanya dan kembali terbangun ketika sampai.  Hanya sesekali beliau bangun untuk mencermati keadaan lingkungan atau makan sesuatu.  Dalam perjalanan ke Air Bomban ini, tak dinyana UAS jadi “pramugara” dadakan dalam perahu yang kami tumpangi; beliau dua kali mengedarkan makanan yang beliau bawa.

Selepas sholat jamak dan makan malam bersama yang nikmat di rumah Pak Yahya, tim  menayangkan tontonan untuk masyarakat menggunakan laptop, proyektor, dan sound system warga dekat masjid.  Sudah disiapkan beberapa bahan tayangan yang dinilai baik dan bagus untuk saudara-saudara kita di Air Bomban namun sayang sekali ada gangguan teknis berupa tidak sinkronnya peralatan yang dipakai.  Sementara warga dusun dengan antusias menikmati tontonan, sebagian besar peserta sudah rebahan dalam masjid dengan penerangan listrik seadanya sambungan dari genset penduduk.  Lalu menjelang subuh dilanjutkan dengan sebuah lampu emergensi sampai subuh.

Ketika subuh para peserta dengan senter masing-masing turun ke tepian untuk bersuci sambil menyenter kesana kemari.  Sholat subuh berjama’ah di masjid terasa lebih khusyuk di tengah ketenangan alam kawasan hutan perawan itu dan kebersamaan antarpeserta dan juga dengan beberapa penduduk yang ikut berjama’ah.  Seesai sholat, sekali lagi jama’ah beruntung bisa mendengarkan tausiah singkat UAS di keheningan subuh itu.  Semoga dengan pelaksanaan sholat subuh berjamaah dan majelis ilmu yang menyenangkan pada subuh itu, Allah memperkuat iman para peserta dan saudara-saudara kita di Air Bomban serta mendatangkan hidayah pada mereka yang masih belum mengambil “langkah baru”.

Rihlah da’wah ke Suku Talang Mamak ini memang harus dimulai dengan niat yang lurus, lalu dilengkapi dengan kemauan, komitmen, daya juang, dan ketegaran yang lebih dibanding jika “berjuang” di kota.  Selain harus mengurus hampir semua keperluan diri sendiri, peserta juga harus bisa membawakan diri agar “nyambung” dengan masyarakat setempat.  Kebiasaan dan perilaku mestilah disesuaikan juga sehingga bukan kita yang jadi orang aneh di tengah kampung.  Alhamdulillah, semua itu sebenarnya tidak sulit karena adat dan tradisi Suku Talang Mamak sangat dekat dengan orang Melayu yang sudah kita kenal.  Ketegaran diri juga In sya Allah dapat kita jaga bila melihat bagaimana anak-anak disana bisa survive dalam keseharian mereka.

Tekad dan komitmen ini diuji ketika pagi harinya kami ikut berjalan kaki bersama anak-anak SD ke sekolah mereka di Dusun Sadan.  Perjalanan menempuh jalan setapak dalam kebun karet atau hutan-belukar dengan naik turun bukit tiga kali.  Kami juga harus mengharungi sungai satu kali untuk menyeberang dan sepanjang jalan terbuka kemungkinan kaki masing-masing ditempeli pacat.  Anak-anak itu senang-senang saja, apalagi ditemani oleh banyak orang dan UAS yang mereka sudah akrab, padahal yang menemani umumnya sudah ngos-ngosan berjalan naik turun sekitar 40 menit itu.

 

Mungkin keramahtamahan dan kebersamaan sejak awal itulah yang telah meruntuhkan tembok psikologis antara peserta rihlah dengan masyarakat Talang Mamak, khususnya anak-anak.  Mereka tidak canggung untuk duduk berdempet-dempet dan bergelayut ketika berjalan dengan para mahasiswa UIN penggiat da’wah dan dengan UAS.  Muka-muka yang lugu, cahaya mata yang jernih, dan senyuman yang cerah sangat mudah didapatkan pada masing-masing masyarakat dan anak-anak tempatan.

Ketersambungan ini dan akhlak yang baik nampaknya sudah jadi pintu masuk para penda’wah terdahulu.  Kita rasanya juga bagaikan sedang pulang ke kampung sendiri sehingga ketika melihat berbagai hal dan masalah yang harus diperbaiki maka secara sendirinya akan muncul hasrat untuk berbuat apa yang mungkin kita lakukan.  Mudah-mudahan kepekaan melalui rihlah ini sebagai recharging iman dalam hati, sebagaimana kata UAS, dan dengan segala nikmat yang telah didapat dalam kehidupan bisa mendorong diri untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *