Rihlah Talang Mamak (3): Kenapa Oh Kenapa? Bagaimana dan Bagaimana?

Kiri: Ustadz Abdul Somad (UAS) bersama Pak Taktung (baju kuning), Reza (baju merah kanan), dan seorang warga di Masjid Desa Rantau Langsat. Kanan: Reza dan para peserta rihlah (termasuk UAS) tidur dengan keadaan seadanya dalam rumah warga di Dusun Bengayawan (foto: Hanif Muis)

 

Kita tahu bahwa banyak sekali jama’ah masjid-masjid di daerah perkotaan yang  menunggu kehadiran Ustadz Abdul Somad (UAS).  Jadwal beliau sampai Juni 2018 sudah penuh sehingga sering beliau minta maaf kepada yang meminta untuk beri tausiah.  Karena itu, mungkin kita akan bertanya: “Kenapa beliau mau blusukan ke daerah Suku Talang Mamak?” atau “Bagaimana ceritanya itu sampai terjadi?”

Pertanyaan yang pertama sudah dijawab pada tulisan yang pertama, “RihlahTalang Mamak (1):  Da’wah Untuk Menyimak”. Yang jelas ini bukan perjalanan piknik untuk menikmati kursi pesawat business class, limousine, kapal pesiar, atau kamar hotel bintang lima.  Tidak pula singgah ke restoran mewah, bahkan sinyal HP pun tak ada.

Kiri: Kadang harus turun dari perahu dan mendorong (foto: Asep). Kanan: perahu bisa juga bocor karena menabrak batu atau kayu (foto: Hanif Muis)

 

Sedangkan untuk menjawab pertanyaan kedua kita mesti menelusuri kisahnya ke belakang dan kepada mereka-mereka pelaku kejadiannya.   Tentu ada banyak orang yang dulu berkaitan dengan kisah UAS sampai ke Talang Mamak ini, namun bisa kita pilih orang yang mungkin banyak berperan yang masih bisa kita jumpai dan ikut dalam aktivitas yang sama sampai sekarang.  Alhamdulillah kita dapat menggali sedikit cerita dari karib kita Reza Fahlevi, seorang muda penggiat da’wah yang tunak dari Yayasan Muara.

Yayasan ini baru berdiri 9 September 2016 namun kegiatan yang sekarang diwadahinya sudah dimulai oleh Reza dan kawan-kawan sejak beberapa tahun sebelumnya.  Berawal ketika sebagai Ketua OSIS tahun 2011 di Tembilahan, Reza mula mengenal Suku Talang Mamak saat ikut kegiatan rihlah ilmiah ke air terjun granit di Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) dalam Kabupaten Inderagiri Hilir.  Kepadanya diceritakan tentang keangkeran daerah itu, banyaknya harimau, dan adanya Orang Talang yang hidup di kawasan hutan.  Reza malah jadi tertarik untuk berjumpa dengan Orang Talang dan ingin sekali bisa berbaur dan mengikuti kegiatan sehari-hari suku pedalaman itu, serta banyak lagi yang ingin dilakukannya bersama mereka.

Ketika sudah Smester 3 di Uversitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim, Reza bersama teman-temannya ikut program UIN Suska Mengajar yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa UIN.  Ketika kegiatan itu tidak diteruskan lagi sehingga Reza menjadikan kegiatan ini sebagai satu komunitas dengan basis di Desa Rantau Langsat.  Karena banyak dan kompleksnya masalah yang ditemukan di desa itu, Reza kurang puas jika kegiatan itu berlangsung hanya tiga pekan dalam setahun.

Subhanallah, pada Smester 5 Reza minta ridho kepada orangtuanya untuk berhenti kuliah.  Ini pasti satu ujian berat bagi orangtua Reza serta jadi keheranan bagi para dosen dan sahabat-sahabatnya.  Dengan alasan kuliah nanti bisa dilanjutkan atau diulang, Reza melihat dirinya bisa berbuat lebih banyak hal yang bermanfaat bagi saudara-saudara kita Suku Talang Mamak.  Langkah drastis ini ternyata jadi awal dari tapak yang kokoh bagi da’wah ke Suku Talang Mamak selanjutnya.

Mulailah Reza terjun langsung ke dalam masyarakat Talang Mamak dengan mitra kerja diantaranya Pak Taktung, seorang tokoh dan pendidik dalam masyarakat Talang Mamak. “Proyek” pertama adalah pembangunan sekolah secara bergotong royong bersama masyarakat di Dusun Bengayawan, tempat kami menginap pada malam terakhir waktu rihlah kemarin.  Bersama Pak Taktung ia keluar masuk dusun dan singgah dari rumah ke rumah untuk berkomunikasi dan menggalang kebersamaan.  Pada kesempatan itu Reza juga berusaha memahami berbagai masalah yang ada dan mendalami aspek sosial budaya Suku Talang Mamak sampai akhirnya berkesimpulan bahwa salah satu faktor kunci adalah pendidikan berupa pesantren untuk membina masyarakat.

Hal ini mendorong Reza berinteraksi secara intensif dengan kalangan alumni pesantren, dengan kampus, dan nyambung komunikasi kembali secara informal dengan para dosen/guru.  Diantara dosen/guru yang memberi Reza pemahaman dan dorongan dalam kegiatannya adalah Ustadz Saleh Nur, Dr Iskandar Arnel, Dr Saidul Amin, dan Pak Elviriadi.    Ia tak segan untuk belajar dengan mereka, baik di kelas, mushollah, bahkan tak jarang tidur di rumah mereka.  Ia juga pernah tinggal di asrama mahasiswa bersama temannya Muhmud Hibatul Wafi dan Muhammad Bagus untuk mengetahui kehidupan dan pelaksanaan kuliah para alumni pesantren.  Ia juga menyempatkan ikut pengajian di asrama itu.

Ketika suatu kali UAS mengisi pengajian tentang Budaya Menulis, Reza langsung mengadakan pendekatan dan menyampaikan bahwa dia ingin membuat perpustakaan di daerah-daerah pedalaman, khususnya daerah Suku Talang Mamak.  UAS langsung merespons dengan meminta Reza mengambil buku-buku tulisannya di Toko Buku Tafaqquh.  Reza juga sempat mengikuti kelas internasional UAS di UIN tentang Tafsir Hadits dengan bahasa pengantar Inggeris dan Arab.  Meski jarang jumpa lagi dengan UAS, ia dan teman-temannya terus belajar, diskusi, merancang program, membangun jaringan, dan merangkul mitra, serta menjalankan berbagai kegiatan.

Suatu kali temannya Wafi membawa pesan bahwa UAS ingin jumpa yang akhirnya terlaksana sambil ngopi di kantin kampus (UAS ketika itu minum susu).  UAS ingin melakukan rihlah da’wah ke Talang Mamak dan minta buatkan jadwal yang akan dipaparkan dulu ke jama’ah pada kajian UAS pada hari Sabtu subuh di Masjid Raya An-Nur, Provinsi Riau.  Ketika itulah Reza baru tahu bahwa kajian itu dihadiri oleh banyak sekali jama’ah dan kendaraan yang terparkir demikian banyak.  Reza dan kawan-kawannya galau: minder, deg-degan, dan merasa “terjebak”.  Mereka tak dapat lagi menghindar dari keterlibatan para pihak secara lebih luas.  Alhamdulillah rihlah da’wah yang pertama itu dapat terlaksana dengan baik dan lancar bersama peserta dari jama’ah dan penggiat da’wah, diantaranya Ir Mahmud Arifien yang sangat giat.

Kiri: Para penggiat da’wah berjumpa di Pekanbaru (foto: Ir Mahmud Arifien). Kanan: Pekerjaan Pembangunan Masjid di Dusun Air Bomban yang sudah ditangani oleh Lazis PLN dan infaq lainnya. Masih banyak keprluan lain yang menunggu (foto: Riki Bagus).

 

Sepulangnya dari rihlah, UAS membawa oleh-oleh cerita menarik dan dokumentasi foto yang disampaikan di depan jama’ah kajian Sabtu subuh sehingga menimbulkan minat lebih luas.  Dukungan dan perhatian terus mengalir dan untuk mewadahi kegiatan da’wah ini maka bermuara ke berdirinya Yayasan Muara.  Alhamdulillah, ukhuwwah telah terjalin dan dengan dukungan berbagai pihak upaya membantu agama Allah ini telah berbuah; saat ini sedang dibangun satu masjid di Dusun Air Bomban (didukung oleh Lazis PLN), pondok Tahfizh dan Tahsin Quran di Dusun Lemang (didukung oleh Dewan Dawah), dan beberapa orang anak sedang belajar Tahfizh di Pekanbaru dan Jawa.  Ada pula yang sudah diterima belajar di Akademi Perawat RS PMC Pekanbaru.

Masih banyak lagi yang mesti kita lakukan secara bersama.  Semuanya In sya Allah bisa kita upayakan dengan kebersamaan, asalkan kita bisa menjaga niat yang tetap ikhlas, integritas, akuntabilitas, dan mengharap ridho Allah semata.  Semoga Allah memberikan kesehatan dan rasa istiqomah pada para penggiat da’wah ke Suku Talang Mamak dan dimudahkan segala urusan guna tegaknya kalimah Allah dalam hati saudara-saudara kita tersebut.

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *