Rihlah Talang Mamak (2): Uji Kesadaran Akan Nikmat

Pagi-pagi hari kedua dimulai dengan jalan kaki beberapa ratus meter dalam kebun karet di belakang rumah Pak Tabri menuju ke Sungai Batang Gansal.  Memperhatikan karakternya, Batang Gansal di daerah rihlah ini nampaknya masuk kategori rejim tengah dan hulu dengan ciri dangkal, airnya jernih, berarus cukup deras, dasarnya berbatu dengan beberapa jeram, dan lintasannya relatif stabil.  Sungai ini jadi salah satu urat nadi kehidupan masyarakat tempatan.

Ketika memanfaatkan sungai ini, tingkah para “orang kota” sangat beragam megikuti pengalaman dan latar belakang masing-masing.  Sementara ada yang terlihat sudah biasa dan bahkan mungkin sedang menikmati memori masa lalunya, ada pula yang ragu-ragu, khususnya ketika hendak membenamkan kepalanya ke air atau menyikat gigi.  Namun interaksi dengan sungai pagi itu, menjadi satu proses adaptasi dalam utilisasi sungai untuk bersuci dan MCK sehingga hal itu jadi lebih mudah ketika kami mudik ke dusun-dusun tujuan di hulu.

Perjalanan mudik menggunakan tujuh perahu motor yang kami naiki dari sebuah tepian dekat rumah Kepala Desa.  Ketika menunggu berangkat, giliran telinga pula yang beradaptasi dengan bahasa setempat yang mirip Bahasa Melayu.  Di perahu yang berisi penumpang emat atau lima orang, tenyata perlu juga adaptasi dari kebiasaan duduk di jok mobil yang empuk dan bersih jadi mencongkong atau duduk senyamannya di lantai perahu berupa kisi-kisi papan. Namun dengan azam yang kuat untuk ikut beramal dan berda’wah maka perjalanan dengan perahu bermotor ini jadi sangat menarik dan In sya Allah akan mengingatkan kita pada Allah.

Ke tujuh perahu motor ini membawa kami di sungai yang berlika-liku dalam hutan tropis yang perawan.  Bagaikan memagari perjalanan kami, pohon-pohon besar dan tinggi di kiri kanan sungai terajut indah dengan kekayaan hayati yang sangat beragam disertai oleh desiran bayu dan dendangan fauna. Karena sedang musim kering, air sungai yang dangkal dan jernih membayangkan mozaik batuan di dasar sungai.  Bersama dengan keberadaan tebing cadas, pulau kerikil, dan singkapan batu masif di sepanjang sungai, semuanya memberikan lukisan alam yang membuat kita makin kagum pada kesempurnaan dan kekuasaan Al-Khaliq.

Untuk mengharungi sungai ini menuntut keahlian dan kerja keras awak perahu; seorang di buritan mengendalikan satu mesin tempel 15 PK yang dibantu oleh seorang lagi di haluan dengan sebatang galah.  Yang mengantar kami memang hafal alur sungai dan sangat piawai mengelakkan batu-batu masif dalam air; juga kapan harus tancap gas dan kapan menggunakan galah atau harus turun untuk mendorong perahu melawan arus sungai di tempat dangkal.

Puncak dari perjalanan di sungai ini adalah di jeram di Pemuatan yang berada sekitar pertengahan antara Dusun Lemang dan Sadan, dengan beda tinggi muka air hulu dan hilir saat itu sekitar satu meter. Untuk keselamatan dan kelancaran perahu mendaki jeram, para penumpang dan barang-barang berat atau penting diturunkan ke sisi sungai yang penuh batu cadas, kerikil, dan pasir.

Disaksikan oleh para penumpang dengan penuh kagum, awak perahu menunjukkan kebolehannya mendaki jeram sampai mencapai palung di bagian hulunya untuk menambat perahu. Di “rest area” ini para awak perahu melepas lelah dan menambah kekuatan sambil bercengkrama.  Sedengkan peserta rihlah ada pula yang berenang atau mengeksplor sungai di sekitar jeram itu

Setelah semua perahu dan barang-barang melewati jeram, bekal makan siang berupa nasi bungkus dengan lauk ikan asin dan terung balado serta sambal lado terung asam pun dibuka; ada yang duduk di atas batu cadas, kerikil atau pasir, atau di atas perahu, sesuai dengan keinginannya dalam menikmati lingkungan jeram dalam hutan itu.  Luar biasanya tempat itu dan kebersamaan dalam pengalaman unik itu menjadikan apa yang dimakan minum menjadi lebih nikmat dan keakraban bertambah.  Perjalanan dengan perahu motor memudiki Batang Gansal selama lima jam sampai ke Dusun Air Bomban ini menjadi uji kesadaran akan nikmat Allah Swt.

Kenikmatan ini bisa jadi memunculkan berbagai kata hati.  Mungkin  ada yang mengaitkannya dengan gambaran surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya atau berfikir bagaimana keindahan di dunia saja sudah demikian, apalagi kelak di surga.  Padahal jika masih bisa kita bayangkan, itu berarti belum sehebat surge yang dijanjikan Allah untuk kita.  Sangat patut pula kiranya kalau keadaan itu mengingatkan kita pada firman Allah yang diulang-ulang dalam Surat Ar-Rahman: “Maka nikmat Rab kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Hikmahnya bagi kita, ni’mat Allah pada hambaNya tidak dapat ditakar secara materil atau berdasarkan hawa nafsu, tanpa melibatkan iman dalam hati.  Kita yang hidup bergelimang kebendaan dan kemudahan, punya kesempatan yang terbatas dan harus bersusah payah terlebih dahulu untuk menikmati pemberian Allah di Sungai Gansal sebagaimana yang digambarkan tadi.  Sebaliknya saudara-saudara kita dari Talang Mamak di kawasan TNBT itu yang menurut kita banyak keterbatasan ternyata hari-hari dapat menikmatinya dengan mudah, meskipun banyak di antara mereka menikmatinya masih belum dalam kerangka iman kepada Allah Al-Khaliq.

Karena itu, sebagai uji kesadaran kita terhadap nikmat Allah, perlu adanya berbagi nikmat dan iman dalam dua arah antara kita dengan saudara-saudara kita Suku Talang Mamak itu dengan saling berkunjung dan menjalin ukhuwwah.  Kekurangan pada mereka kita perkuat dengan pemberdayaan malalui kelebihan kita dan sebaliknya.  Makin kuat kesadaran kita pada nikmat Allah, kita mesti makin kuat pula mendekat padaNya.  Dengan demikian In sya Allah hidup kita bisa untuk berbuat yang bermanfaat bagi sesama dan dalam kebersamaan maka hidup kita jadi lebih penuh makna, selama dalam ketentuan dan ridho Allah Subhanahu Wata’ala.  Semoga.

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Rihlah Talang Mamak (2): Uji Kesadaran Akan Nikmat

  1. BangNess berkata:

    Senang membaca tulisannya, serasa berada di daerah rihlah di batang gangsal lagi.
    Trimakasih pak. Salut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *