Rihlah Talang Mamak (1): Da’wah Untuk Menyimak

 

 

(Sumber Foto: UAS, Nesdi, Mahmud, Bismar)

Berbeda dengan rihlah atau perjalanan ke daerah maju yang mungkin banyak menyajikan hal yang baru, rihlah ke daerah pedalaman ini lebih banyak menjumpai hal yang biasa dikenal namun cenderung tidak lagi kita simak.  Alhamdulillah tanggal 28-31 Agustus 2017 lalu, penulis ikut perjalanan da’wah Ustadz Abdul Somad, Lc, MA, seorang ulama hadits dari Riau (selanjutnya disingkat UAS), ke dusun-dusun Suku Talang Mamak di Desa Rantau Langsat, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Inderagiri Hulu, Provinsi Riau.

Suku Talang Mamak secara tradisonal banyak mendiami kawasan hutan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT), khususnya sepanjang sungai Batang Gansal sejak dari dalam kawasan hutan itu sampai ke sekitar Seberida.  Kelompok masyarakat ini termasuk suku Proto Melayu (Melayu Tua) yang menurut Obdeyn, seorang Asisten Residen Indragiri zaman dulu, berasal dari Pagaruyung, Sumatera Barat.  Bahasa yang mereka pakai adalah Bahasa Talang Mamak yang terpengaruh Bahasa Minang dan Bahasa Melayu, sedangkan kepada orang luar mereka berbahasa Melayu.

Mereka masuk ke hutan-hutan di pedalaman karena terdesak konflik adat dan agama.  Ada pula yang berpendapat bahwa Suku Talang Mamak masuk ke pedalaman untuk menghindari penjajahan.  Alhamdulillah dengan terkuaknya isolasi, hari ini mereka menunjukkan diri sebagai bangsa Indonesia dan berinteraksi dengan komponen bangsa yang lain secara baik meskipun ketergantungan dengan hutan dan alam masih sangat kuat dalam tradisi kehidupan mereka.

Dari tradisi yang masih bisa kita jumpai sampai sekarang seperti mantera, sya’ir, dan alat musik gambus, nampaknya mereka pernah mengenal Islam lalu terkikis sehingga kembali mendekat ke animisme yang mereka sebut sebagai “adat”.  Mereka terbagi jadi beberapa golongan: masih kukuh dengan adat, mengikuti “misi” yang datang, atau masuk Islam yang mereka sebut mengambil “langkah baru”.  Kepada saudara-saudara kita golongan yang terakhir inilah rihlah da’wah ini ditujukan.

Perjalanan rihlah yang diikuti sekitar 30 orang ini dimulai dari Pekanbaru dengan mobil sampai ke Dusun Lemang, Desa Rantau Langsat, sebagai lokasi terakhir yang terjangkau mobil.  Selain berasal dari kelompok UIN Suska Mengajar dan Yayasan Muara yang “membuka” pintu da’wah pada awalnya, para peserta rihlah berasal dari berbagai lembaga yaitu: Lazis PLN, Badan Kesejahteraan Masjid Raya An-Nur, Tafaqquh Studi Cub, Persatuan Insinyur Indonesia Wilayah Riau, Rumah Zakat, dan Dewan Da’wah yang juga melakukan kegiatan pengumpulan infaq untuk kegiatan di Talang Mamak melalui Tabligh Akbar UAS di Rengat.

Malam itu, setelah tabligh akbar, jam 23.00 kami bertolak dari Rengat ke arah Belilas dan sampai di Lemang jam 01.30. Setelah bercengkarama dengan para penggiat Da’wah dari Yayasan Muara yaitu Sdr. Reza Pahlevi dan kawan-kawan yang telah sampai beberapa hari sebelumnya serta Pak Tabri yang rumahnya dengan senang hati jadi markas kegiatan sejak awal, jam 02.00 baru kami mulai menghampar untuk tidur.

Sekitar jam 04.00 para peserta mulai bangun lagi dan sayup-sayup dari masjid yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah Pak Tabri terdengar suara UAS mengaji.  Di desa yang gelap dan penuh suara jangkrik serta fauna malam, reflek peserta adalah mengambil senter masing-masing untuk pergi berwudhu ke anak sungai kecil dalam belukar di seberang jalan antara rumah Pak Tabri dan masjid.  Gerak sorot senter silang siur, mungkin mengikuti mata dan telinga para peserta yang orang kota untuk menyimak keadaan sekeliling.

Selesai sholat subuh berjamaah, kami beruntung dapat mendengarkan tausiah UAS. Dengan jadwal yang demikian padat, beliau masih menyempatkan diri untuk rihlah ini sehingga kami bisa bersama seorang guru dalam komunitas kecil selama empat hari. Kami lalu sarapan bersama sebelum menyerahkan hewan kurban untuk Dusun Lemang yang diterima oleh Bapak Supno Hatiro, Kepala Desa Rantau Langsat.

Bersempena Idul Adha, sebelum rihlah telah diadakan program pengumpulan hewan Qurban dari jamaah melalui mimbar dan media sosial. Sebelum rombongan datang, telah ikut “rihlah” lebih dulu 48 ekor domba qurban.  Pada kesempatan rihlah, kesemua calon tunggangan akhirat para peserta qurban ini akan diserahkan secara simbolis kepada masing-masing dusun untuk dipotong dan dibagikan pada hari Raya Idul Adha.

Memang rihlah ke Suku Talang Mamak membawa misi yang menarik.  Menarik karena diusung oleh UAS, seorang ulama kebanggaan Riau yang sudah membuana.  Juga diikuti oleh orang-orang sibuk yang In sya Allah punya daya juang (mujahadah) yang tinggi dan ikhlas. Sebagaimana yang dapat disimpulkan dari tausiah-tausiah lapangan UAS, paling tidak ada tiga misi pokok dari rihlah ini: 1) Menyampaikan risalah da’wah melalui ukhuwwah sebagai jawaban dari pertanyaan Allah kelak, 2) Recharge kembali diri setelah kesibukan yang padat dengan menyimak alam, lingkungan, dan masyarakat dalam lingkungan kehidupan khusus suku asli, dan 3) Menyambungkan antara orang punya kelabihan materi dengan yang membutuhkan melalui orang yang punya waktu untuk rihlah da’wah.

Sungguh rihlah ini satu pengalaman yang takkan terlupakan.  Empat hari bersama ke tempat-tempat yang tidak mudah yang menuntut perjuangan dan keikhlasan dalam interaksi serta adab yang baik.  Rasa pegal duduk dalam perahu motor berjam-jam, tidur tanpa kasur, mandi di sungai, makan secukupnya, berjalan naik turun bukit, dan menyeberang sungai yang ada pacat dan nyamuk terobati dengan kepuasan batin ketika kita menyimak kebesaran Allah melalui keindahan dan keaslian alam di TNBT.

Kebersamaan dengan UAS dan masyarakat serta anak-anak Suku Talang Mamak nan masih asli, mudah-mudahaan menjadi amal bagi para peserta.  Sebagaimana misi yang disampaikan UAS di atas, semoga Allah meridhoi apa yang telah UAS dan peserta lakukan di lingkungan Suku Talang Mamak yang dikunjungi. Ingin kan anda ikut pada kesempatan rihlah yang akan datang?

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *