Telatah (6): Tangkai Jering

“Awang, kau ni busuk lah… Entah bau ojol entah bau jering ni?” kata Atan pada kawan akrabnya pedagang ojol itu, ketika mereka jumpa di teras rumah guru Pudin.

“Ah engkau juga sama, bau kambing…,” balas Awang tak mau kalah.

“ Menyanyah engkau…! Kalau bau jering tu aku serius,” kata Atan. Mereka saling mencium bahu untuk membuktikan.  Mendengar kehebohan itu Pudin segera keluar.

“Eh eh eh… apa terjadi pada kalian ni?” Tanya Pudin.

“Atan ni yang memulai, bang” jelas Awang, “dibilangnya aku bau jering,” jawab Awang.

“Betul bang, saya cium ada bau. Entah ojol entah jering… jering agaknya,”

“Biasalah tu,  pedagang ojol bau ojol, peternak kambing bau kambing.  Tak apa apa, kejab lagi kan kita bersih-bersih sebelum Zuhur,” kata Pudin.

“Betul bang.  Cuma aku tak suka dia bilang aku bau jering karena aku tak suka makannya, banyak mudharatnya,” tambah Awang.

“Engkau tak makan tapi mungkin ojol kau tu kena getah jering,” kata Atan ngotot.

“Sudah lah, tak perlu diributkan.  Jangan kita macam tangkai jering,“ kata Pudin.

 “Apa maksudnya tu, bang? Tanya Atan.

“Maksudnya, kalau ada sesuatu yang kurang baik pada diri kita, kita sibuk membela diri. Heboh kesana kemari menunjukkan kelebihan dan jasa kita atau kita timpakan kesalahan pada pihak lain. Sudah ada yang menyebutkan salah kita pun kita tak peduli, macam tangkai jering memegang buahnya tu lah.  Saking liatnya, sampai lesut pun tak dilepasnya sehingga mesti dipatah baru dapat buahnya,” jelas Pudin yang membuat mereka terdiam beberapa sa’at.

“Jadi baiknya macam mana, bang?” Tanya Atan sambil menarik nafas.

“Sederhana saja, lebih baik segera introspeksi dan minta ma’af, tobat bahasa agamanya.”

“Tapi tak semua orang mudah begitu, bang,” kata Atan.

“Betul.  Dalam psikologi ada yang disebut lima tahap mental orang untuk menerima keadaan yang buruk: penyangkalan, marah, menawar, depresi, dan penerimaan. Kalau tetap di tahap awal terus maka kita tak kan pernah menyesal dan tak mau tobat.  Padahal Nabi saja istighfar tak kurang dari 100 kali sehari. Tiap malam sebelum tidur beliau juga muhasabah,” jelas Pudin.

 Kemudian Pudin meminta Atan dan Awang bersalaman, meskipun kegaduhan tadi tidak serius. Setelah berbincang beberapa hal lain, lalu keduanya pulang untuk persiapan Shalat Zuhur.

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *