MENGENAL PROF. DR. ABDURRAHMAN AWAJI, IMAM RAMADHAN YANG ARIF DAN SEJUK

Dr Abdurrahman Al-Awaji web_article_213_M_1440120478

Dr. Abdurrahman Awaji di Masjid Al-Munawwaroh, UIR, Pekanbaru.

Sudah dua kali Dr. Abdurrahman Awaji datang ke Pekanbaru dan jadi imam Ramadhan di Masjid Raya Senapelan, yaitu tahun 1436 dan 1438 Hijriyah.  Dr. Abdurrahman berasal dari Madinah, belajar sejak S1 sampai sampai tingkat doktoral dalam bidang Akidah di Universitas Islam Madinah dan sekarang adalah seorang guru besar dan Wakil Rektor di Universitas tersebut.

Tentu beliau seorang yang kompeten dan istimewa, namun selama di Riau beliau bersikap sangat arif dan rendah hati serta sangat menghargai perbedaan pendapat.  Meskipun datang dari negeri yang dominan bermazhab Hambali, tapi tidak mengalami benturan yang azasi di negeri Melayu yang dekat ke mazhab Syafi’I ini. Beliau menekankan pentingnya umat Islam memiliki sifat saling menghormati dan saling menghargai dalam beribadah serta kehidupan sehari-hari selama masih dalam lingkaran Dua Kalimat Syahadat.

Dalam dua kali Ramadhan tersebut, di masjid tertua di Pekanbaru ini Dr. Abdurrahman memimpin sholat tarawih 20 raka’at dan witir 2+1 rakaat yang diselingi dengan sholawat oleh muadzin.  Gerakan takbir beliau dan cara melipat tangan sama seperti  jama’ah setempat dan beliau mengeraskan bacaan Basmallah di awal Surat Al-Fatihah.  Ketika sholat subuh beliau juga membaca doa qunut dan tidak memasalahkan dzikir dan doa sesudah sholat sebagaimana yang biasa di masjid itu.

Dalam berpakaian beliau juga menunjukkan cara yang wajar saja.  Tentu sesuai dengan kebiasaanya, beliau memakai gamis jenis biasa saja dengan ukuran sedikit di atas mata kaki dan tutp kepala surban kotak-kotak merah yang sudah kita kenal itu.  Perilaku keseharian beliau juga biasa saja dan akrab dengan para remaja Masjid Raya.  Bahkan bulan Ramadhan lalu, selepas tarawih secara tak diduga dan diantar para remaja itu, beliau sempat muncul dua kali ke Masjid Raya An-Nur.

Pada kedatangan ke An-Nur yang kedua, beliau didaulat untuk ikut tadarus dan sempat membaca beberapa ayat yang disimak oleh para peserta tadarus lainnya.  Tahun 1436 lalu, ketika diberikan kesempatan memberikan tausiah di Masjid Al-Falah Darul Muttaqin, Dr. Abdurrahman mengemukakan topik Manhaj Da’wah Rasulullah.  Rekaman tausiahnya dapat kita simak di media sosial dan ringkasan transkripnya bisa dibaca di link https://riau2020.wordpress.com/2017/08/10/skrip-ringkas-tausiah-dr-abdurrahman-awaji-di-masjid-al-falah-pekanbaru-tanggal-4-juli-2015/.

Dari perilaku keseharian, cara beliau menyikapi tata cara ibadah, dan kandungan tausiah beliau, dapat kita fahami bahwa beliau adalah seorang yang sangat arif dan berilmu.  Beliau mendalami apa yang dilakukan dan disampaikannya sehingga tak dapat kita tolak kecuali mengakui beliau sebagai orang yang mengerti dan menghargai perbedaan yang bersifat khilafiyah.  Mudah-mudahan imu dan kearifan beliau terus menyinari pemahaman dan menyejukkan ummat dalam melaksanakan syariat agama. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan kesejahteraan kepada Dr. Abdurrahman Awaji dan keluarga serta terus menambah ilmu beliau.  Amin.

Sumber foto: http://uir.ac.id/wb/pg/article/news/detail/213/

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *