Semanggi

Dalam beberapa bulan belakangan ini orang-orang infrastruktur di Jakarta cukup sibuk membicarakan Semanggi. Ini nama jembatan simpang susun di pertemuan antara Jl Sudirman dengan Jalan Gatot Subroto, yang bentuknya seperti daun semanggi (clover leaf). Saat ini Pemerintah DKI sedang membuat perencanaan untuk meningkatkan jembatan ini, tentu untuk kelancaran lalu lintas di ibukota.

Bicara infrastruktur jalan mestilah dalam tinjauan layanan sistemnya. Maksudnya, kapasitas layanannya bukan tergantung hanya pada lebar, panjang, dan kemulusan permukaannya saja tapi harus dilihat juga dari keterkaitan jaringan jalan itu satu sama lain. Seandainya dalam sistem jaringannya ada bagian yang jadi bottle neck maka bagian itu ikut menentukan tingkat pelayanan keseluruhan.

Selain itu perlu juga ditinjau kapasitas layan atau panjang jalan dengan jumlah kendaraan yg harus dilayani pada suatu saat puncak (peak); bisa diambil 100% bisa 80% atau mungkin 60% dari volume saat peak. Untuk perkotaan, kalau mampu mengambil lebih tinggi tentu lebih baik, tentu dengan konsekwensi biaya yang lebih besar pula.

Tentang Semanggi, jembatan ini karya Ir Sutami itu (mungkin bersama Rooseno apa ya?).  Ketika itu Sutami adalah Menteri PUTL, karena Presiden Soekarno tidak yakin dengan disain tiangnya yang tidak tegak atau miring, maka untuk meyakinkannya, Sutami berada di bawah jembatan itu ketika ditest pakai pertama kali.

Sebab itu memang sayang kalau dalam peningkatannya nanti, harus hilang cirinya yang sudah jadi branding Highway Engineering di Indonesia. Namun dengan sekian banyak tenaga ahli di Jakarta, masalah kapasitas dan aspek bentuk ini tentu sudah ditinjau secara seksama.

Artinya, adanya rencana itu mengimplikasikan bahwa dalam sistem jaringan jalan kota Jakarta, Semanggi saat ini sudah menjadi salah satu bottle neck yang cukup besar pengaruhnya terhadap pelayanan sistem jaringan jalan ibukota sehingga perlu diperbesar kapasitasnya. Setelah ditingkatkan nanti kita harapkan akan nampak bedanya.

Akan tetapi, tuntutan peningkatan ini rasanya tetap menyisakan permintaan pada sisi lain yaitu appreasiasi pada hasil karya anak bangsa ini. Mudah2an disain dari multistoreys jembatan baru itu nanti dengan layout-nya masih bisa menyisakan ciri jembatan lama. Dalam reka bentuk jembatan baru ini tentu perlu melibatkan para arsitek dan ahli lansekap. Mudah-mudahan dalam memacu modernitas Jakarta kita tetap memilih alur yang tepat, etis, dan paling produktif bagi bangsa.

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *