Gaung: Salam

muslim-kid-salam-hand-drawn-vector-illustration-35473037 (illustrasi dreamstime.com)

Kita sudah familiar dengan kata salam yang maksudnya bisa kegiatan menyapa dengan suatu ucapan, saling menggenggam telapak tangan, atau suatu good wish atau doa untuk seseorang. Dengan perspektif religius yang sering dikutip oleh para penulis, salam bermakna menyampaikan pesan damai, rasa hormat, dan doa.  Jadi salam adalah penghargaan atau pemberian rasa hormat kepada orang yang disukai.

Meskipun dalam kehidupan “modern” sekarang penyampaian salam bergeser ke arah formalitas atau basa basi, namun yang menerima salam sepatutnya tetap memberikan pengharagaan balik kepada si pemberi salam.  Apabila orang menyampaikan ucapan Assalamualaikum kepada kita misalnya, maka semestinya kita jawab dengan ucapan yang sama.  Akan lebih utama lagi kalau kita balas dengan melebihkan menjadi Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.  Tambahan berikutnya adalah waridhwan.

Kata salam atau As-Salam adalah salah satu nama Allah yang berarti Yang Maha Pemberi Keselamatan.  Menyampaikan salam, sebagaimana yang diajarkan Rasulullah, dinilai sebagai salah satu bentuk untuk menebarkan nama-nama Allah di muka bumi, bahkan yang menyampaikan salam kepada sekelompok orang dinilai satu derajat lebih tinggi.  Bila tidak dijawab maka akan dijawab oleh yang lebih baik dari mereka yakni para Malaikat.

Menyampaikan salam memang sunnah namun menjawabnya adalah wajib. Muatan sakral ini menyebabkan salam tidak dapat dianggap sebagai basa basi tapi memiliki etika dalam interaksinya.  Selain yang lebih dahulu menyampaikan salam adalah lebih baik, prinsip dasar lainnya adalah yang muda kepada yang lebih tua, yang menghormati kepada yang lebih dihormati.  Akan tetapi ketentuan usia dan penghormatan ini bisa dikalahkan oleh azas: yang sedikit kepada yang ramai, yang pergi kepada yang tinggal, yang lewat kepada yang di tempat, yang di atas kendaraan kepada yang berjalan kaki, yang berjalan kaki kepada yang duduk.

Aturan salam yang lebih azasi adalah bahwa salam secara Islam hanya ditujukan untuk sesama Muslim.  Hal ini tentu suatu ketentuan yang given sehingga bukan untuk diperdebatkan tapi difahami dan dikerjakan saja. Kepada yang lain, seorang Muslim tetap boleh memberi salam namun bersifat umum seperti selamat pagi, semoga sukses, selamat jalan, dan sebagainya. Sementara bersalaman tangan yang diikat aturan mahram, banyak membawa berkah.

Bagaimana kalau yang akan diberi salam adalah sekelompok orang Islam yang bercampur dengan yang bukan? Salam tetap dapat dilakukan dengan niat untuk mereka yang Muslim sedang bagi yang lainnya dapat disapa dengan salam yang umum di atas.  Sebaliknya kalau ada seorang Non-Muslim menyampaikan Assalamualaikum maka orang Islam yang mendengarnya boleh menjawabnya dengan Waalikum yang artinya dan kamu juga.

Jadi tetap ada saling menghargai dan mendoakan meskipun cara dan kepercayaan berbeda.  Dengan pemahaman yang jernih, mudah-mudahan mudah terbangun saling pengertian yang kokoh dan saling menghormati dalam masyarakat kita.

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *