Gaung: Masjid

20160405_111756-1-1Kita tentu sudah tidak asing dengan masjid yang dalam pengertian awam adalah bangunan yang digunakan untuk melakukan ibadah sholat dan ceramah agama.  Masjid artinya memang tempat sujud yaitu meletakkan kening ke lantai sebagai gerakan tubuh seorang manusia yang paling mewakili bahwa ia menyembah Allah Subhanahu Wa Taala.  Dalam arti luas, sujud itu adalah tanda tunduk  dan mengabdikan diri kepada Allah Subhanahu Wa Taala.

Sang Khaliq memang menjadikan manusia dan jin semata-mata untuk beribadah atau mengabdi padanya.  Dalam konteks ini Allah Subhanahu Wa Taala melalui utusanNya memberitahu manusia kebaikan yang Ia perintahkan dan keburukan yang dilarangNya.  Sebagai ujian, di alam dunia manusia diberi kebebasan untuk memilih apakah dia patuh atau melanggar perintah.

Kembali ke fungsi masjid, kaidah umumnya kita dapat melakukan apa saja yang bernilai ibadah di masjid kecuali hal-hal yang dilarang.  Dalam rekaman sejarah–selain untuk sholat dan taklim–masjid dipakai untuk bermusyawarah, mengatur strategi, latihan olahraga atau bela diri, dan bahkan untuk menerima tamu asing yang bukan Islam.

Kita perlu pula  menyimak hal-hal yang tidak boleh dilakukan di dalam masjid sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam dan para sahabat, misalnya berjual beli dan mengumumkan barang hilang.  Masjid wajib dijaga kebersihan dan keselamatannya serta bebas dari penggunaan untuk menyampaikan faham-faham yang menyalahi dan menyelisihi ajaran Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam.

Akan tetapi masjid tidak dapat dinisbatkan pada seseorang atau sesuatu kelompok.  Seseorang yang telah menginfaqkan hartanya untuk masjid dengan ikhlas tidak akan bersusah payah agar nama dan jasanya disebut orang, apatah lagi dinisbatkan namanya pada masjid itu karena masjid sudah menjadi rumah milik Allah.  Pahala amal jariyah yang membangunnya akan terus mengalir sampai akhir zaman.

Hari ini, yang lebih kritis bukanlah membangun suatu masjid tapi bagaimana memakmurkannya yaitu meramaikannya dengan kegiatan ibadah, taklim, dakwah, dan muamalah.  Dalam iklim keterbukaan informasi dan bereserakannya pemikiran liberal saat ini, terasa sangat berat tantangan yang kita hadapi dalam menjaga keselamatan ummat, terutama generasi muda yang diiming-imingi oleh godaan duniawi.  Masjidlah jawaban dari masalah yang kita hadapi itu.

Ummat harus kita dekatkan ke masjid; generasi muda mesti kita tambatkan hatinya ke masjid yang In sya Allah kelak akan menyelamatkan dirinya dan kaum keluarganya sendiri.  Tanggung jawab orangtualah untuk menunjukkan jalan ke masjid pada anak cucunya.  Di sisi lain, para takmir (pengurus) masjid bertanggung jawab pula untuk memakmurkan rumah Allah ini.  Semuanya hanya untuk mencari Ridho Allah.  Semoga, amin.

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *