Gaung: Layat

ziarah-kubur

(illustrasi: majelismakassar.blogspot.com)

Senin pagi dua pekan lalu menghentak satu kabar duka.  Menepati suratan gaib, Sang Khaliq telah memanggil seorang kawan yang jadi pejabat di birokrasi.  Mulai dari sanak saudara, handai tolan, kerabat, kolega, sampai ke para petinggi negeri datang melayat.

Melayat ke tempat orang meninggal memang suatu aktivitas yang dianjurkan untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan.  Kehadiran para pelayat diharapkan dapat mengurangi rasa dukacita dan kehilangan orang yang dicintai.  Kebersamaan juga akan meningkatkan tali silaturrahim antara tuan rumah dan pelayat ataupun antara sesama pelayat.

Kata para ulama, melayat ke tempat orang meninggal adalah guru yang terbaik.  Selain dijanjikan pahala sebesar pahala yang meninggal, para pelayat In sya Allah juga akan mendapat hikmah yang banyak.  Sebagai pelayat kita akan ingat bahwa suatu saat akan mendapat giliran sehingga terdorong untuk melakukan muhasabah diri, sejauh mana kesiapan kita menghadapinya.  Kesiapan itu tidak hanya masalah mental spiritual tapi juga keadaan keluarga dan kaum kerabat dekat di sekeliling kita.  Dalam nuansa dukacita itu akan nampak juga bagaimana sikap dan prilaku orang pada yang meninggal.

Sudah sepatutnya para keluarga dan sanak famili yang meninggal adalah yang paling tersibukkan di tengah para pelayat, meskipun penyelenggaraan jenazah adalah kewajiban sosial atau fardhu kifayah.  Namun yang paling cepat merespon fardhu kifayah ini biasanya bukan famili tapi para tetangga dan pengurus masjid terdekat,  sebagaimana yang dianjurkan.  Karena itu sering kita dengar bahwa dengan tetangga bisa lebih dekat dari pada dengan sanak famili yang tinggalnya berjauhan.

Para rekan kerja, baik atasan maupun bawahan, tentu juga akan ikut melayat.  Relasi dan kenalan juga biasanya menyempatkan diri hadir.  Tidak heran kalau banyak orang-orang tua kita dalam keadaan susah payah pun masih memaksakan melayat ke tempat orang meninggal.  Namun semuanya tak lepas dari bagaimana interaksi orang itu sebelum meninggal dengan orang-orang sekelilingnya.

Kata orang bijak, apa yang dia dapat sesuai dengan apa yang telah dilakukannya pada orang lain.  Orang tidak baik yang akan segera dilupakan adalah orang yang tangan dan lidahnya menimbulkan kesusahan pada orang-orang di sekitarnya.  Sebaliknya, orang baik sangat menjaga lisannya dan ringan tangan untuk membantu orang lain, hatinya bersih, dan mukanya senantiasa cerah.  Apatah lagi apabila dilengkapi dengan amal ibadah yang terjaga maka mungkin ia bisa jadi seorang paripurna atau insan kamil.

Ketika seorang baik meninggal maka akan berduyun-duyun orang yang melayat, ikut dalam prosesi penyelenggaraan jenazah, dan melanjutkan dengan takziah pasca pengebumian. Jika kita ikut melayat, di tengah keramaian itu hati kita juga terasa masih tersambung dengan yang meninggal dan dengan ikhlas mendoakannya.

Sungguh beruntung orang yang kematiannya membuat orang merasa kehilangan, rumah dukanya dipenuhi yang melayat, dan jenazahnya disholatkan oleh banyak orang di masjid tempat dia tinggal atau di masjid utama kotanya, sebagaimana kawan yang meninggal dua pekan lalu itu.  Semoga ia husnul khotimah dan Allah menerima amal ibadahnya.

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *